­

BAHAGIA BERLIMPAH KETIKA BERSEDEKAH DARI JERIH PAYAH

14:20

Oleh : Titiek S

       Sejak mulai usia masuk sekolah, anak-anak kuberi uang saku atau uang jajan. Tidak banyak, hanya Rp 3000 untuk yang kelas 1-3 SD, Rp 6000 untuk yang kelas 4-6 SD, dan Rp 9000 untuk yang sudah SMP. 

       Uang saku tidak kuberikan begitu saja, tetapi diiringi dengan nasehat bagaimana mengelola harta. Kusebut manajemen harta bagi tiga. Yaitu, sepertiga disedekahkan, sepertiga ditabung dan sepertiga untuk dibelanjakan. Hanya nasehat, tetapi anak-anakku melaksanakannya dengan semangat.

       Awalnya mereka terbiasa bersedekah setiap hari di sekolah. Kadang untuk kas kelas, kadang ada taawun sripah. Bila terlupa bersedekah di sekolah, mereka segera ke masjid dan memasukkan sepertiga harta itu ke kotak amal.

       Seiring berjalan waktu, anak-anak lebih suka mengumpulkan dana sedekahnya. Sedekah harian menjadi sedekah pekanan yang mereka keluarkan disetiap Jumat.

       Ketika mereka mulai memahami kondisi saudara-saudaranya di Palestina, anak-anak memintaku untuk langsung memotong sepertiga "harta" mereka. Sedekah pekanan berubah menjadi sedekah bulanan.

      Mereka sangat senang setiap kuberikan lembar tanda terima dari KNRP bukti bahwa sedekah mereka sudah kusampaikan. Dan mereka semakin rajin bersedekah,  tidak cuma dari penghasilan pokok ( uang saku-pen ) tetapi juga dari 'penghasilan sampingan' yang secara ajaib sering menghampiri mereka. Empat anak itu seringkali diutus untuk mewakili sekolah mereka ke berbagai ajang lomba. Dan selalu ada rupiahnya. Terkadang nominalnya bisa sepuluh kali lipat dari uang saku sebulan.

       Memasuki masa pandemi, kami harus gemi. Anak-anak tak berangkat ke sekolah atau kuliah, maka tidak ada yang namanya uang saku. Kata mereka, tak masalah. 

      Akan halnya sedekah, kami jadikan aktivitas sedekah keluarga. Sedekah sembako untuk tetangga-tetangga terdampak corona. 

Suatu hari, si bungsu kangen dengan kebiasaannya sedekah palestin. 
"Mi, bagaimana cara Olis sedekah untuk palestin ya ?" 

"Nulis dan jual buku kayak umi, yuk Lis ?"

"Yakin ada yang mau beli ya, Mi ?" 

"Dicoba aja, jika niat Olis tulus, tentu dimudahkan Allah," jawabku menyemangati. 

Akhirnya Olis pun menulis. Ia menulis antologi anak. Selesai menulis dibulan Mei, dan buku pun terbit diakhir bulan Juni. Ternyata hanya butuh waktu 3 hari bagi Olis untuk menjual habis bukunya. MasyaAllah Tabarakallah. 

Olis sangat bahagia, karena hari ini dia bisa mewujudkan niat bersedekah palestin. Dan katanya, rasa bahagia lebih berlimpah ketika bersedekah dari hasil jerih payah.
Alhamdulillah 😀


Catatan Umi Titiek
Bantul, 2 Juli 2020



You Might Also Like

1 komentar

  1. Tulisan Titiek tuh, ringan tapi kena banget. Mengalir banget... Sementara aku kok masih susah ya kalau nulis? Ada ide nih, belum dituis sudah menguap...

    ReplyDelete

Subscribe